MAKALAH
I’ROB
Disusun untuk memenuhi mata kuliah Bahasa Arab
Semester V
Dosen Pengampu :
Hj. Imas Jihan Syah

Disusun Oleh :
I’in Nur Hamidah
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN
Tahun Pelajaran 2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat
dan karunia-Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah pengelolaan kelas.
Sholawat serta
salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita baginda Rosulullah SAW
yang telah menujukan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh warna–warni
cahaya ilmu yaitu adinul islam.
Dengan terselesaianya makalah ini,
kami tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebanyak –banyaknya kepada pihak
yang bersangkutan, atas bantuannya baik doa maupun tenaganya dalam penyusunan
makalah ini.
Kami sadar bahwasanya makalah ini masih banyak
sekali kesalahan maupun kekurangan. Oleh karena itu, kami harap keikhlasan
kepada para pembaca maupun pihak lain dalam memberikan kritik dan sarannya
untuk penyusunan makalah yang lebih baik dan berkualitas .
Lamongan, 17 September 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan masalah ..................................................................................... 1
C.
Tujuan penulisan makalah......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 2
A.
Pengertian i’rob.................................................................................. ...... 2
B.
Pembagian i’rob................................................................................ ...... 3
C.
Tanda-tanda I’rob .............................................................................. ...... 4
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 10
A.
Kesimpulan................................................................................................ 10
B.
|
11 |
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Upaya dalam memudahkan pengkajian
ilmu nahwu telah ada sejak munculnya ilmu nahwu itu sendiri. Berbagai
konsep dan metode telah dikemukakan oleh para tokoh nahwu. Disadari atau tidak,
bahwa perjalanan ilmu nahwu terus berjalan dari abad klasik hingga abad modern
bahkan kontemporer saat ini. Tentunya terdapat banyak sejarah tokoh,
pemikiran-pemikiran, serta perdebatan yang terjadi yang telah banyak
memberikan warna tersendiri dalam khazanah ilmu nahwu. Dengan landasan itu,
kiranya perlu banyak kajian terhadap ilmu nahwu dalam rangka menggali
lebih dalam sejarah perkembangan nahwu hingga sekarang. Karena sesungguhnya hal
itu akan menjadi bukti eksistensi suatu peradaban.
Seperti halnya
bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di
dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau
informasi. Terutama dalam memahami ilmu agama yang mana bersumber dari
Al-qur’an dan Al-hadist yang harus memerlukan kaidah nahwu yang mana di
dalamnya terdapat sebagian kajian tentang I’rob. Yang akan dijelaskan oleh
kelompok kami tentang “Pengertian I’rob dan pembagiannya”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diambil Rumusan Masalah
sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan I’rob?
2.
Sebutkan macam-macam atau pembagian i’rob ?
3.
Apa saja tanda-tanda I’rob?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian I’rob
2. Untuk menjelaskan macam-macam atau pembagian i’rob
3. Untuk mengetahui tanda-tanda I’rob
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian I’ROB
Kata I’rab (إعراب)
secara bahasa memiliki arti “baris” atau juga “harakat”, Kata i’rab ada
juga yang mengatakan berasa dari bahasa arab yang mempunyai arti perubahan,
sedangkan menurut professor doktor sarjana ahli nahwu, i’rob yaitu perubahan yang terjadi pada ahir kata
yang di sebabkan oleh perbedaan amil yang masuk, baik berupa lafadz atau
taqdirnya. Sedangkan bina’ itu merupakan kebalikan dari i’rab
yang masing-masing keduanya memiliki karekteristik yang sangat berbeda-beda.[1]
Menurut ilmu nahwu, I’rab ialah:
تَغْيِيرُ اَوَاخِرِ الكَلِمِ لِاخْتِلَافِ العَوَامِلِ الدَاخِلَةِ عَلَيهَا
لَفْظًا اَوْ تَقْدِيرًا
Artinya :
“Berubahnya (harokat) akhir suatu kalimat yang disebabkan adanya
perbedaan ‘amil (yang memerintah) yang menempel pada kalimat tersebut, baik
dalam segi lafadznya atau pun kira-kiranya’’[2]
Maksud dari arti tersebut ialah:
I'rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi
amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya
secara diperkirakan saja keberadaannya.
I'rob pada isim (kata benda) ada tiga macam yaitu
rof'un (رفع), nashbun ( نصب) , dan jarrun ( جر). Sedangkan
I'rob pada kata kerja (Fi’il )ada 3 yaitu : rof'un (رفع), nashbun ( نصب), jazmun (جزم). I'rob (perubahan akhir) pada suatu isim yanh menunjukkan kedudukan atau
suatu fungsi isim tersebut dalam kalimat baik sebagai subjek,predikat,objek
langsung maupun objek dari suatu kata depan. Isim atau kata benda yang
mengalami
dinamakan ism mabniy ( اسم مبني). Pada isim mabni tidak ada
perubahan di akhir isim tersebut.
Dalam I’rob kita
menemukan Kalimat yang selalu berubah-ubah akhirnya, dan itu dinamakan ism mu'rob (اسم معرب) Kalimah mu’rob adalah kalimah yang akhirannya
bisa berubah-ubah sesuai dengan ‘amil yang memasukinya.[3] Jadi jika suatu kalimah itu
kemasukan ‘amil dan kalimah itu terjadi perubahan pada akhiran kalimah itu,
maka kalimah itu di sebut kalimah mu’rab contohnya kalimah مِنَ
الْمَسْجِدِ , disini terjadi perubahan harakat
akhir pada kalimah isim الْمَسْجِدِ,
karena pada awalnya kalimah itu harakat akhirnya di baca dhommah tapi karena ke
masukan ‘amil, yaitu huruf jer maka harakat akhir kalimah itu di baca kasrah
atau majrur.
Dan apabila kita menemukan suatu kalimat
yang tidak berubah harokat akhirnya, itu dinamakan ism mabni ( اسم مبني).Harokat akhir yang tidak akan berubah
dinamakan BINA'
B.
Pembagian
I’rob
وَأَقْسَامُهُ أَرْبَعَة :
رَفْعٌ، وَنَصْبٌ، وَخَفْضٌ، وَجَزْم
“I'rob dibagi
menjadi 4, yaitu: rofa', nashob, khofad dan jazm.”[4]
keterangan :
1. Rafa’ : perubahan yang khusus, yang ditandai
dengan dlomah atau yang menggantinya. Contohnya : جَاءَ مٌحَمْدٌ
2. Nashab : Yaitu
perubahan yang khusus, yang ditandai dengan fathah atau yang menggantinya, contohnya
رَأَيْتُ زَيْدًا
3. Khofad/jer : Yaitu
perubahan yang tertentu, yang ditandai dengan kasroh atau yang menggantinya.
Contohnya : مَرَرْتُ بِزَيْدٍ
4. Jazm : Yaitu perubahan
yang tertentu yang ditandai dengan sukun atau yang menggantinya. Contohnya : لَمْ
يَضْرِبْ
C.
Tanda-tanda I’rob
Masing- masing i’rob mempunyai tanda yang
berbeda-beda, diantaranya sebagai berikut:
1.
I’rob Rafa
لِلرَّفْعِ أَرْبَعُ عَلَامَاتٍ اَلضَّمَّةُ وَالْوَاوُ وَالْأَلِفُ
وَالنُّوْنُ
Artinya : “I’rob rafa’ itu
mempunyai 4 tanda, yaitu dlomah,
wawu, alif dan nun”.
Setiap kalimah, ketika rafa’ pasti menggunakan salah satu dari 4 tanda
tersebut. Dan setiap tanda mempunyai
tempat – tempat tersendiri yang akan dibahas di bawah ini :
1)
Dhammah, merupakan
tanda i”rob asli. contohnya maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada empat
tempat :
(1)
Pada Isim Mufrad, yaitu yang menunjukkan makna
tunggal. Contoh : قَرَأَ مُحَمَّدٌ القرأنَ
(2)
Jama’ taktsir, yaitu lafadz yang menunjukkan arti
banyak dan tidak terikat pada objek perempuan maupun laki-laki. Jamak taksir
juga dapat dimaknai suatu lafadz yang menunjukkan arti banyak yang bentuk
lafadznya berubah dari bentuk tunggalnya. Misalnya; طلب menjadi طلاب , contoh;
جاء الطلاب
في المدرسةِ
(3) Jama’ muannas salim, yatu lafadz yang menunjukkan makna jamak (banyak) yang
dikhususkan pada objek perempuan. Dan biasanya di aakhiri dengan huruf alif dan
ta’. Contoh : جَائَتِ الْمُسْلِمَاتُ (para wanita muslimah
datang)
Keterangan : Lafadz الْمُسْلِمَاتُ adalah jama’ mu’annats salim. Mufrodnya
adalah اَلْمُسْلِمَةُ yang berarti seorang wanita muslimah. Ta’ – nya اَلْمُسْلِمَةُ dibuang, lalu ditambahkan alif dan ta’ alamat jama’
(4)
fiil mudhari’ yang huruf akhirnya
tidak bertemu dengan alif tatsniyyah, wawu jama’, dan ya’ mu’annatsah
mukhothobah. Fi’il mudlori’ adalah fi’il yang di awali huruf ya’, ta’, hamzah,
atau nun yang zaidah (tambahan).
Contoh : يَنْصُرُ , تَضْرِبُ , اَفْتَحُ , نُقَاتِلُ
2) wawu, pada hakikatnya wawu adalah sebagai pengganti (tanda
far’i) dari tanda dhammah.Tanda wawu sebagai ciri dari i’rab rafa’ bertempat di
dua tempat, yaitu[5]
(1) Jamak mudzakar salim, yaitu suatu kata yang
menunjukkan makna jamak yang dikhusukan pada objek laki-laki, dan biasanya di
akhiri dengan huruf wawu dan nun (و ن)
pada tingkah rafa’ dan di akhiri ya’ dan nun (ين) pada
tingkah nasab dan jer. Contoh;
اولئك هم المفلحون
(2) Asma’ul
khamsah, yaitu isim-isim lima yakni (اب، اخ، حم، فو، ذو). Contoh;
جَاءَ
اَبُوْكَ، اَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوْكَ، ذُوْ مَالٍ
3) alif, maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada isim-isim tatsniyyah yang
tertentu.Isim tatsniyah adalah suatu kata benda yang
menunjukkan makna dua. Isim tatssniyah biasanya di akhiri dengan huruf alif dan
nun (أ ن) ketika
rafa’, dan di akhiri ya’ dan nun (ين) ketikaa
tingkah nasab dan jer. Contoh;
احمدٌ وحسنٌ طالبان
جديدان
4)
Nun maka ia menjadi
tanda bagi rafa’ pada fi’il mudhari yang bersambung dengan dhamir tatsniyah,
dhamir jama’, dan dhamir muannats mukhatabah. Nun menjadi
tanda bagi i’rab rafa’ itu bertempat pada fi’il mudhari’ yang bertemu dengan[6]
(1)
Dhamir
tastniyah, contoh;
يفعلان، تفعلان
(2) Dhamir
jamak, contoh;
يفعلون، تفعلون
(3) Dhamir
muannas mukhatabah, contoh;
تفعلين
2.
I’rob Nashab
I'rab nashab mempunyai lima alamat, yaitu:
fathah, alif, kasrah, ya dan membuang (menghilangkan) huruf nun. [7]
1)
Fathah merupakan tanda
i’rob nasab asli, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada tiga tempat :
(1)
Pada Isim Mufrad, seperti dalam contoh :
رَأَيْتُ زَيْدًا = aku telah melihat zaid
اِشْتَرَيْتُ كِتَابًا = aku telah membeli sebuah kitab
(2)
Jama’ taksir, seperti contoh :
رَأَيْتُ زُيُوْدًا = aku telah melihat zaid-zaid
اِشْتَرَيْتُ كُتُبًا = aku telah membali beberapa buah kitab
(3)
Fi’il Mudhari apabila kemasukan padanya amil yang menashabkan dan
pada akhir kalimatnya tidak bertemu dengan sesuatupun. (dari alif tatsniyah,
wawu jamak,dan nun taukid). Contoh:
لَنْ يَفْعَلَ = dia tidak
akan dapat berbuat
لَنْ نَبْرَحَ
عَلَيْهَ عَاكِفِيْنَ
2)
Alif. Alif menjadi
alamat bagi i’rab nashab berada pada asma’ul khomsah, Contoh :
Asma’ul khomsah
رَأَيْتُ
أَبَاكَ وَ أَخَاكَ = aku telah melihat ayahmu dan saudaramu
3)
Kasrah. Kasrah menjadi
alamat i’rab nashab hanya terdapat pada bentuk jamak muannats salim saja. Contoh
:
Jamak muannats salim
رَأَيْتُ
الْمُسْلِمَاتِ (bentuk
jamak dari lafadh مُسْلِمَةٌ)
رَأَيْتُ
ثَيِّبَاتٍ (bentuk jamak dari lafadh ثَيِّبَةٌ)
4)
Ya’. Ya menjadi
alamat bagi i’rab nashab pada isim tatsniyah dan jamak mudzakar salim. Contoh:
(1)
Isim tatsniyah
قَرَأْتُ
كِتَابَيْنِ = aku telah membaca dua buah kitab
Huruf ya’ di sukun kan dan huruf sebelumnya di fathah
kan
(2)
Jamak mudzakaar
salim
رَأَيْتُ
الْمُعَلِّمِيْنَ = aku telah melihat guru-guru
Huruf ya’ di
sukun kan dan huruf sebelumnya di kasrah kan
(3)
membuang
nun(Hafdzu Nun). Membuang nun menjadi alamat pada i’rab nashb pada af’aalul
khomsah. Yang di rafa’ kan dengan memakai nun itsbat .Seperti lafadz:
اَنْ يَعْلَمَا =
hendaknya mereka berdua mengetahui
لَنْ تَعْلَمَا = hendaknya
kamu berdua mengetahui
اَنْ
يَعْلَمُوْا = hendaknya mereka mengetahui
اَنْ
تَعْلَمُوْا =
hendaknya kalian mengetahui
اَنْ تَعْلَمِىْ =
hendaknya engkau perempuan mengetahui
3. I'rob Jar / Khofad
Tanda I'rob jar adalah kasroh,
ya dan fathah.[8]
1) Kasroh, masuk pada tiga tempat, yaitu :
(1) Isim mufrod, قَلَمِيْ عَلَى الْمَكْتَبِ (penaku diatas meja)
(2) Jamak taksir, لِ الْرِّجَالِ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ (para lelaki itu mempunyai
cita-cita yang tinggi)
(3) Jamak muanas salim, سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبَاتِ (saya memberi salam kepada
siswi-siswi).
2) Ya’. masuk pada tiga tempat, yaitu :
(1)
Asma’ul khomsah, أَتَذْهَبُ اِلَى أَخِيْكَ ؟ (apakah
kamu akan pergi kepada saudaramu?).
(2)
Isim tasniyah, سَمِعْتُ هَذَا الْخَبَرَ مِنْ طَالِبَيْنِ (saya
mendengar berita ini dari dua orang siswa).
(3)
Jamak muzakar salim, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ (ya Allah jadikanlah kami
termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan).
3)
Fathah, masuk pada satu
tempat, yaitu :
(1) Isim ghoir munsorif (isim yang tidak menerima tanwin), هِذِهِ السَّيَّارَةُ لِعَائِشَةَ
(mobil ini milik Aisyah).
4.
I’rab jazm
I’rab jazm merupakan
i’rab yang dikhususkan untuk kalimat fiil. Adapun tanda irab jazm yang akan kita bahas disini ada dua, yaitu sukun
dan membuang (nun+huruf ‘illat). Dalam redaksi kitab jurumiyah disebutkan
sebagai berikut :
وَلِلْجَزْمِ عَلَامَتَانِ السُّكُوْنُ وَالحَذْفُ
Artinya : I’rab jazm mempunyai dua alamat
atau ciri (tanda), yaitu sukun dan membuang.
i’rab jazm dalam ilmu nahwu ditandai dengan
dua tanda yaitu harakat sukun dan hadf (membuang), yang dimaksud dengan
membuang disini adalah membuang huruf ‘illat dan juga membuang huruf nun.
Mungkin diantara teman-teman ada yang belum tahu apa itu huruf ‘illat, tidak
apa-apa, pada tulisan selanjutnya insyaallah akan saya tulis sebuah postingan
yang khusus membahas tentang penjelasan apa itu yang dimaksud dengan huruf
‘illat.[9]
Adapun tanda irab jazm yang menjadi bagian
terakhir dalam pembagian i’rab dalam ilmu nahwu adalah sebagai berikut :
1) Sukun, yang
menjadi tanda pokok dalam i’rab jazm.
Contoh :
لَمْ يَضْرِبْ Asalnya يَضْرِبُ
لَمْ يَنْصُرْ Asalnya يَنْصُرُ
لَمْ يَكُنْ Asalnya يَكُوْنُ
2) Membuang nun
yang menjadi tanda rafa’.
Contoh :
لَمْ تَفْعَلُوْا
Asalnya تَفْعَلُوْانَ
لَمْ تَفْعَلِىْ Asalnya تَفْعَلِيْنَ
لَمْ يَفْعَلَا Asalnya يَفْعَلَانِ
لَمْ تَفْعَلَا Asalnya تَفْعَلَانِ
لَمْ يَفْعَلُوْا
Asalnya يَفْعَلُوْانَ
3) Membuang
huruf ‘illat.
|
لَمْ يَرْمِ Asalnya يَرْمِى |
لَمْ يَخْشَ Asalnya يَخْشَى
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
I’rab adalah “pengubahan” atau “perubahan”
akhir masing-masing kata karena perbedaan faktor yang memasukinya, menganggap
bahwa i’rab itu adalah suatu proses perubahan yang abstrak, tidak kelihatan
konkret. Berubahnya akhir kata itu tidak kelihatan, tiba-tiba saja tanda i’rab
itu berubah menjadi tanda i’rab yang lain.
Definisi ini menganggap bahwa i’rab itu
berada di antara ketentuan tanda i’rab yang satu dengan yang lainnya. Padahal
masing-masing i’rab, yakni i’rab rofa’, nashab, jar dan jazm itu adalah
ketentuan setelah selesainya ‘perubahan’ itu, misalnya berubah menjadi i’rab
nashab, berubah menjadi i’rab jar atau menjadi i’rab jazm atau menjadi i’rab
rofa’. Jadi i’rab itu bukan berada pada saat perubahan itu tetapi pada saat
ketentuan setelah selesai perubahan itu. Pada saat perubahan itu tidak ada
namanya, hanya sekedar proses perubahan saja.
B.
Saran
Demikian makalah ini kami susun, kami
menyadari atas banyaknya kekurangan dalam penyusunannya, yang disebabkan karena
keterbatasan kemampuan kami. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan saran
dan kritik baik dari Ibu dosen maupun dari para pembaca, agar makalah ini dapat
lebih mendekati kesempurnaan. Dan semoga penyusunan makalah ini selalu mendapat
ridlo dari Allah SWT Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Ichwan, muhammad nur. Memahami
Bahasa al-Qur’an, Yogyakarta: Celaban Timur. 2002.
Syamilah, Abdurrohman bin Abdirrohman. Syarah Matan al Jurumiyah, Riyad: Daru
Thibah. 1233.
Malik, Ibnu dkk. Terjemah Alfiah Ibnu Malik, Lamongan:
Pon-Pes TABAH. 1999.
Sholihuddin, Shofwan. Mabadi'
An-Nahwiyah, Jombang: Darul Hikmah. 1999.
Nuha, Ulin. Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, Yogyakarata:
DIVA Press. 2015.
Anwar, moch. Ilmu Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah
dan ‘Imrithy, Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2014.
https://ziipenjejakbumi.blogspot.com/2017/09/umamsieihu.ceritamotivasiblog-post.html
[1] Mohammad Nur
Ichwan, Memahami Bahasa al-Qur’an (Yogyakarta: Celaban Timur, 2002),105.
[2] Abdurrohman bin
Abdirrohman Syamilah, Syarah Matan al Jurumiyah, (Riyad: Daru Thibah,
1233), 24-25.
[3] Ibnu Malik,dkk., Terjemah Alfiah Ibnu Malik, (Lamongan:
Pon-Pes TABAH 1999), 20.
[4] Sholihuddin,
Shofwan, Mabadi' An-Nahwiyah,
(Jombang: Darul Hikmah, 1999), 40
[5] Ulin Nuha, Buku
Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, (Yogyakarata: DIVA Press, 2015) ,29 – 30.
[6] Moch, Anwar. Ilmu
Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah dan ‘Imrithy, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2014), 25.
[7] Ulin Nuha, Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, (Yogyakarata: DIVA
Press, 2015) ,32-33.
[8] Ibid, 35.
[9] Zii penjejak bumi, i’rob dan pembagiannya, dalam, https://ziipenjejakbumi.blogspot.com/2017/09/umamsieihu.ceritamotivasiblog-post.html, diakses pada 16 september 2019, pukul:08.15.






baik
BalasHapus