Sabtu, 02 Januari 2021

Makalah I'ROB

MAKALAH

I’ROB

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Bahasa Arab

Semester V

Dosen Pengampu :

Hj. Imas Jihan Syah

 

 




Disusun Oleh :

I’in Nur Hamidah

 

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

Tahun Pelajaran 2019


KATA PENGANTAR

 

               Alhamdulilah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah pengelolaan kelas.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita baginda Rosulullah SAW yang telah menujukan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh warna–warni cahaya ilmu yaitu adinul islam.

Dengan terselesaianya makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebanyak –banyaknya kepada pihak yang bersangkutan, atas bantuannya baik doa maupun tenaganya dalam penyusunan makalah ini.

     Kami sadar bahwasanya makalah ini masih banyak sekali kesalahan maupun kekurangan. Oleh karena itu, kami harap keikhlasan kepada para pembaca maupun pihak lain dalam memberikan kritik dan sarannya untuk penyusunan makalah yang lebih baik dan berkualitas .

 

 

 

                                                                                         

Lamongan, 17 September  2019

 

 

 

 

                                                                                                                    Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA  PENGANTAR............................................................................................ ii

DAFTAR ISI............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1      

A.       Latar Belakang.......................................................................................... 1

B.       Rumusan masalah ..................................................................................... 1

C.       Tujuan penulisan makalah......................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 2

A.       Pengertian i’rob.................................................................................. ...... 2

B.       Pembagian  i’rob................................................................................ ...... 3

C.       Tanda-tanda I’rob .............................................................................. ...... 4

BAB III PENUTUP ................................................................................................. 10

A.       Kesimpulan................................................................................................ 10

B.      

11

Saran.......................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................    

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Upaya dalam memudahkan pengkajian ilmu nahwu telah ada sejak munculnya ilmu nahwu itu sendiri. Berbagai konsep dan metode telah dikemukakan oleh para tokoh nahwu. Disadari atau tidak, bahwa perjalanan ilmu nahwu terus berjalan dari abad klasik hingga abad modern bahkan kontemporer saat ini. Tentunya terdapat banyak  sejarah  tokoh,  pemikiran-pemikiran, serta perdebatan yang terjadi yang telah banyak memberikan warna tersendiri dalam khazanah ilmu nahwu. Dengan landasan itu, kiranya perlu banyak kajian terhadap ilmu nahwu dalam rangka menggali lebih dalam sejarah perkembangan nahwu hingga sekarang. Karena sesungguhnya hal itu akan menjadi bukti eksistensi suatu peradaban.

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Terutama dalam memahami ilmu agama yang mana bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadist yang harus memerlukan kaidah nahwu yang mana di dalamnya terdapat sebagian kajian tentang I’rob. Yang akan dijelaskan oleh kelompok kami tentang “Pengertian I’rob dan pembagiannya”.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diambil Rumusan Masalah sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud dengan I’rob?

2.      Sebutkan macam-macam atau pembagian i’rob ?

3.      Apa saja tanda-tanda I’rob?

C.     Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian I’rob

2.      Untuk menjelaskan macam-macam atau pembagian i’rob

3.      Untuk mengetahui tanda-tanda I’rob

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian I’ROB

Kata I’rab (إعراب) secara bahasa memiliki arti “baris” atau juga “harakat”, Kata i’rab ada juga yang mengatakan berasa dari bahasa arab yang mempunyai arti perubahan, sedangkan menurut professor doktor sarjana ahli nahwu, i’rob  yaitu perubahan yang terjadi pada ahir kata yang di sebabkan oleh perbedaan amil yang masuk, baik berupa lafadz atau taqdirnya. Sedangkan bina’ itu merupakan kebalikan dari i’rab yang masing-masing keduanya memiliki karekteristik yang sangat berbeda-beda.[1]

Menurut ilmu nahwu, I’rab ialah:

تَغْيِيرُ اَوَاخِرِ الكَلِمِ لِاخْتِلَافِ العَوَامِلِ الدَاخِلَةِ عَلَيهَا لَفْظًا اَوْ تَقْدِيرًا 

Artinya :

“Berubahnya (harokat) akhir suatu kalimat yang disebabkan adanya perbedaan ‘amil (yang memerintah) yang menempel pada kalimat tersebut, baik dalam segi lafadznya atau pun kira-kiranya’’[2]

Maksud dari arti tersebut ialah: I'rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya secara diperkirakan saja keberadaannya.

I'rob pada isim (kata benda) ada tiga macam yaitu rof'un (رفع), nashbun ( نصب) , dan jarrun ( جر). Sedangkan I'rob pada kata kerja (Fi’il )ada 3 yaitu : rof'un (رفع), nashbun ( نصب), jazmun (جزم). I'rob (perubahan akhir) pada suatu isim yanh menunjukkan kedudukan atau suatu fungsi isim tersebut dalam kalimat baik sebagai subjek,predikat,objek langsung maupun objek dari suatu kata depan. Isim atau kata benda yang mengalami

dinamakan ism mabniy ( اسم مبني). Pada isim mabni tidak ada perubahan di akhir isim tersebut.

 

Dalam I’rob kita menemukan Kalimat yang selalu berubah-ubah akhirnya, dan itu dinamakan ism mu'rob (اسم معرب) Kalimah mu’rob adalah  kalimah yang akhirannya bisa berubah-ubah sesuai dengan ‘amil yang memasukinya.[3] Jadi jika suatu kalimah itu kemasukan ‘amil dan kalimah itu terjadi perubahan pada akhiran kalimah itu, maka kalimah itu di sebut kalimah mu’rab contohnya kalimah  مِنَ الْمَسْجِدِ , disini terjadi perubahan harakat akhir pada kalimah isim الْمَسْجِدِ, karena pada awalnya kalimah itu harakat akhirnya di baca dhommah tapi karena ke masukan ‘amil, yaitu huruf jer maka harakat akhir kalimah itu di baca kasrah atau majrur.

Dan apabila kita menemukan suatu kalimat yang tidak berubah harokat akhirnya, itu dinamakan ism mabni ( اسم مبني).Harokat akhir yang tidak akan berubah dinamakan BINA'

B.     Pembagian I’rob

وَأَقْسَامُهُ أَرْبَعَة : 

رَفْعٌ، وَنَصْبٌ، وَخَفْضٌ، وَجَزْم

“I'rob dibagi menjadi 4, yaitu: rofa', nashob, khofad dan jazm.”[4]

keterangan :

1.      Rafa’ : perubahan yang khusus, yang ditandai dengan dlomah atau yang menggantinya. Contohnya : جَاءَ مٌحَمْدٌ

2.      Nashab : Yaitu perubahan yang khusus, yang ditandai dengan fathah atau yang menggantinya, contohnya رَأَيْتُ زَيْدًا

3.      Khofad/jer : Yaitu perubahan yang tertentu, yang ditandai dengan kasroh atau yang menggantinya. Contohnya : مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

4.      Jazm : Yaitu perubahan yang tertentu yang ditandai dengan sukun atau yang menggantinya. Contohnya : لَمْ يَضْرِبْ

C.    Tanda-tanda I’rob

Masing- masing i’rob mempunyai tanda yang berbeda-beda, diantaranya sebagai berikut:

1.      I’rob Rafa

لِلرَّفْعِ أَرْبَعُ عَلَامَاتٍ اَلضَّمَّةُ وَالْوَاوُ وَالْأَلِفُ وَالنُّوْنُ        

Artinya : “I’rob rafa’ itu mempunyai 4 tanda, yaitu dlomah, wawu, alif dan nun”.

Setiap kalimah, ketika rafa’ pasti menggunakan salah satu dari 4 tanda tersebut.  Dan setiap tanda mempunyai tempat – tempat tersendiri yang akan dibahas di bawah ini :

1)      Dhammah, merupakan tanda i”rob asli. contohnya   maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada empat tempat :

(1)   Pada Isim Mufrad, yaitu yang menunjukkan makna tunggal. Contoh : قَرَأَ مُحَمَّدٌ القرأنَ

(2)   Jama’ taktsir, yaitu lafadz yang menunjukkan arti banyak dan tidak terikat pada objek perempuan maupun laki-laki. Jamak taksir juga dapat dimaknai suatu lafadz yang menunjukkan arti banyak yang bentuk lafadznya berubah dari bentuk tunggalnya. Misalnya; طلب menjadi طلاب , contoh;

جاء الطلاب في المدرسةِ

(3)   Jama’ muannas salim, yatu lafadz yang menunjukkan makna jamak (banyak) yang dikhususkan pada objek perempuan. Dan biasanya di aakhiri dengan huruf alif dan ta’. Contoh : جَائَتِ الْمُسْلِمَاتُ  (para wanita muslimah datang)

Keterangan : Lafadz الْمُسْلِمَاتُ adalah jama’ mu’annats salim. Mufrodnya adalah اَلْمُسْلِمَةُ yang berarti seorang wanita muslimah. Ta’ – nya اَلْمُسْلِمَةُ dibuang, lalu ditambahkan alif dan ta’ alamat jama’

(4)   fiil mudhari’ yang huruf akhirnya tidak bertemu dengan alif tatsniyyah, wawu jama’, dan ya’ mu’annatsah mukhothobah. Fi’il mudlori’ adalah fi’il yang di awali huruf ya’, ta’, hamzah, atau nun yang zaidah (tambahan).

Contoh : يَنْصُرُ , تَضْرِبُ , اَفْتَحُ , نُقَاتِلُ

2)      wawu, pada hakikatnya wawu adalah sebagai pengganti (tanda far’i) dari tanda dhammah.Tanda wawu sebagai ciri dari i’rab rafa’ bertempat di dua tempat, yaitu[5]

(1)   Jamak mudzakar salim, yaitu suatu kata yang menunjukkan makna jamak yang dikhusukan pada objek laki-laki, dan biasanya di akhiri dengan huruf wawu dan nun  (و ن) pada tingkah rafa’ dan di akhiri ya’ dan nun (ين) pada tingkah nasab dan jer. Contoh;

اولئك هم المفلحون

(2)   Asma’ul khamsah, yaitu isim-isim lima yakni (اب، اخ، حم، فو، ذو). Contoh;

جَاءَ اَبُوْكَ، اَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوْكَ، ذُوْ مَالٍ

3)      alif, maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada isim-isim tatsniyyah yang tertentu.Isim tatsniyah adalah suatu kata benda yang menunjukkan makna dua. Isim tatssniyah biasanya di akhiri dengan huruf alif dan nun (أ ن) ketika rafa’, dan di akhiri ya’ dan nun (ين) ketikaa tingkah nasab dan jer. Contoh;

احمدٌ وحسنٌ طالبان جديدان

4)      Nun maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada fi’il mudhari yang bersambung dengan dhamir tatsniyah, dhamir jama’, dan dhamir muannats mukhatabah. Nun menjadi tanda bagi i’rab rafa’ itu bertempat pada fi’il mudhari’ yang bertemu dengan[6]

(1)   Dhamir tastniyah, contoh;

يفعلان، تفعلان

(2)   Dhamir jamak, contoh;

يفعلون، تفعلون

(3)   Dhamir muannas mukhatabah, contoh;

تفعلين

 

2.      I’rob Nashab

I'rab nashab mempunyai lima alamat, yaitu: fathah, alif, kasrah, ya dan membuang (menghilangkan) huruf nun. [7]

1)      Fathah merupakan tanda i’rob nasab asli, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada tiga tempat :

(1)   Pada Isim Mufrad, seperti dalam contoh :

رَأَيْتُ زَيْدًا = aku telah melihat zaid

اِشْتَرَيْتُ كِتَابًا = aku telah membeli sebuah kitab

(2)   Jama’ taksir, seperti contoh :

رَأَيْتُ زُيُوْدًا = aku telah melihat zaid-zaid

اِشْتَرَيْتُ كُتُبًا = aku telah membali beberapa buah kitab

 

(3)   Fi’il Mudhari apabila kemasukan padanya amil yang menashabkan dan pada akhir kalimatnya tidak bertemu dengan sesuatupun. (dari alif tatsniyah, wawu jamak,dan  nun taukid). Contoh:

لَنْ يَفْعَلَ = dia tidak akan dapat berbuat

لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهَ عَاكِفِيْنَ

 

2)      Alif. Alif menjadi alamat bagi i’rab nashab berada pada asma’ul khomsah, Contoh :

Asma’ul khomsah

رَأَيْتُ أَبَاكَ وَ أَخَاكَ = aku telah melihat ayahmu dan saudaramu

3)      Kasrah. Kasrah menjadi alamat i’rab nashab hanya terdapat pada bentuk jamak muannats salim saja. Contoh :

Jamak muannats salim

رَأَيْتُ الْمُسْلِمَاتِ (bentuk jamak dari lafadh مُسْلِمَةٌ)

رَأَيْتُ ثَيِّبَاتٍ (bentuk jamak dari lafadh  ثَيِّبَةٌ)

4)      Ya’. Ya menjadi alamat bagi i’rab nashab pada isim tatsniyah dan jamak mudzakar salim. Contoh:

(1)   Isim tatsniyah

قَرَأْتُ كِتَابَيْنِ = aku telah membaca dua buah kitab

Huruf ya’  di sukun kan dan huruf sebelumnya di fathah kan

(2)   Jamak mudzakaar salim

رَأَيْتُ الْمُعَلِّمِيْنَ = aku telah melihat guru-guru

Huruf ya’ di sukun kan dan huruf sebelumnya di kasrah kan

(3)   membuang nun(Hafdzu Nun). Membuang nun menjadi alamat pada i’rab nashb pada af’aalul khomsah. Yang di rafa’ kan dengan memakai nun  itsbat .Seperti lafadz:

اَنْ يَعْلَمَا = hendaknya mereka berdua mengetahui

لَنْ تَعْلَمَا = hendaknya kamu berdua mengetahui

اَنْ يَعْلَمُوْا = hendaknya mereka mengetahui

اَنْ تَعْلَمُوْا = hendaknya kalian mengetahui

اَنْ تَعْلَمِىْ = hendaknya engkau perempuan mengetahui

3.      I'rob Jar / Khofad

Tanda I'rob jar  adalah kasroh, ya dan fathah.[8]

1)      Kasroh, masuk pada tiga tempat, yaitu :

(1)   Isim mufrod قَلَمِيْ عَلَى الْمَكْتَبِ (penaku diatas meja)

(2)   Jamak taksir, لِ الْرِّجَالِ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ (para lelaki itu mempunyai cita-cita yang tinggi)

(3)   Jamak muanas salim, سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبَاتِ (saya memberi salam kepada siswi-siswi).

2)      Ya’. masuk pada tiga tempat, yaitu :

(1)   Asma’ul khomsah, أَتَذْهَبُ اِلَى أَخِيْكَ ؟ (apakah kamu akan pergi kepada saudaramu?).

(2)   Isim tasniyah,   سَمِعْتُ هَذَا الْخَبَرَ مِنْ طَالِبَيْنِ (saya mendengar berita ini dari dua orang siswa).

(3)   Jamak muzakar salim, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ (ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan).

3)      Fathah, masuk pada satu tempat, yaitu :

(1)   Isim ghoir munsorif (isim yang tidak menerima tanwin), هِذِهِ السَّيَّارَةُ لِعَائِشَةَ (mobil ini milik Aisyah).

4.      I’rab jazm

I’rab jazm merupakan i’rab yang dikhususkan untuk kalimat fiil. Adapun tanda irab jazm yang akan kita bahas disini ada dua, yaitu sukun dan membuang (nun+huruf ‘illat). Dalam redaksi kitab jurumiyah disebutkan sebagai berikut :

وَلِلْجَزْمِ عَلَامَتَانِ السُّكُوْنُ وَالحَذْفُ

Artinya : I’rab jazm mempunyai dua alamat atau ciri (tanda), yaitu sukun dan membuang.

 i’rab jazm dalam ilmu nahwu ditandai dengan dua tanda yaitu harakat sukun dan hadf (membuang), yang dimaksud dengan membuang disini adalah membuang huruf ‘illat dan juga membuang huruf nun. Mungkin diantara teman-teman ada yang belum tahu apa itu huruf ‘illat, tidak apa-apa, pada tulisan selanjutnya insyaallah akan saya tulis sebuah postingan yang khusus membahas tentang penjelasan apa itu yang dimaksud dengan huruf ‘illat.[9]

Adapun tanda irab jazm yang menjadi bagian terakhir dalam pembagian i’rab dalam ilmu nahwu adalah sebagai berikut :

1)      Sukun, yang menjadi tanda pokok dalam i’rab jazm.

Contoh :

لَمْ يَضْرِبْ Asalnya يَضْرِبُ

لَمْ يَنْصُرْ   Asalnya يَنْصُرُ

لَمْ يَكُنْ      Asalnya يَكُوْنُ

2)      Membuang nun yang menjadi tanda rafa’.

Contoh :

لَمْ تَفْعَلُوْا  Asalnya تَفْعَلُوْانَ

لَمْ تَفْعَلِىْ  Asalnya تَفْعَلِيْنَ

لَمْ يَفْعَلَا   Asalnya يَفْعَلَانِ

لَمْ تَفْعَلَا   Asalnya تَفْعَلَانِ

لَمْ يَفْعَلُوْا  Asalnya يَفْعَلُوْانَ

3)      Membuang huruf ‘illat.

لَمْ يَرْمِ    Asalnya يَرْمِى

 

Contoh :

لَمْ يَخْشَ  Asalnya يَخْشَى

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

I’rab adalah “pengubahan” atau “perubahan” akhir masing-masing kata karena perbedaan faktor yang memasukinya, menganggap bahwa i’rab itu adalah suatu proses perubahan yang abstrak, tidak kelihatan konkret. Berubahnya akhir kata itu tidak kelihatan, tiba-tiba saja tanda i’rab itu berubah menjadi tanda i’rab yang lain.

Definisi ini menganggap bahwa i’rab itu berada di antara ketentuan tanda i’rab yang satu dengan yang lainnya. Padahal masing-masing i’rab, yakni i’rab rofa’, nashab, jar dan jazm itu adalah ketentuan setelah selesainya ‘perubahan’ itu, misalnya berubah menjadi i’rab nashab, berubah menjadi i’rab jar atau menjadi i’rab jazm atau menjadi i’rab rofa’. Jadi i’rab itu bukan berada pada saat perubahan itu tetapi pada saat ketentuan setelah selesai perubahan itu. Pada saat perubahan itu tidak ada namanya, hanya sekedar proses perubahan saja.

B.     Saran

Demikian makalah ini kami susun, kami menyadari atas banyaknya kekurangan dalam penyusunannya, yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan kami. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik baik dari Ibu dosen maupun dari para pembaca, agar makalah ini dapat lebih mendekati kesempurnaan. Dan semoga penyusunan makalah ini selalu mendapat ridlo dari Allah SWT Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ichwan, muhammad nur. Memahami Bahasa al-Qur’an, Yogyakarta: Celaban Timur. 2002.

Syamilah, Abdurrohman bin Abdirrohman.  Syarah Matan al Jurumiyah, Riyad: Daru Thibah. 1233.

Malik, Ibnu dkk. Terjemah Alfiah Ibnu Malik, Lamongan: Pon-Pes TABAH. 1999.

Sholihuddin, Shofwan. Mabadi'  An-Nahwiyah, Jombang: Darul Hikmah. 1999.

Nuha, Ulin. Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, Yogyakarata: DIVA Press. 2015.

Anwar, moch. Ilmu Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah dan ‘Imrithy, Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2014.

https://ziipenjejakbumi.blogspot.com/2017/09/umamsieihu.ceritamotivasiblog-post.html



[1] Mohammad Nur Ichwan, Memahami Bahasa al-Qur’an (Yogyakarta: Celaban Timur, 2002),105.

[2] Abdurrohman bin Abdirrohman Syamilah, Syarah Matan al Jurumiyah, (Riyad: Daru Thibah, 1233), 24-25.

[3] Ibnu Malik,dkk., Terjemah Alfiah Ibnu Malik, (Lamongan: Pon-Pes TABAH 1999), 20.

[4] Sholihuddin, Shofwan, Mabadi'  An-Nahwiyah, (Jombang: Darul Hikmah, 1999), 40

[5] Ulin Nuha, Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, (Yogyakarata: DIVA Press, 2015) ,29 – 30.

[6] Moch, Anwar. Ilmu Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah dan ‘Imrithy, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), 25.

[7] Ulin Nuha, Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, (Yogyakarata: DIVA Press, 2015) ,32-33.

[8] Ibid, 35.

[9] Zii penjejak bumi, i’rob dan pembagiannya, dalam, https://ziipenjejakbumi.blogspot.com/2017/09/umamsieihu.ceritamotivasiblog-post.html, diakses pada 16 september 2019, pukul:08.15.

 


1 komentar: